galihhidayatullah:

Lelah itu mungkin seperti membesar-besarkan hati dengan harapan-harapan hampa. Hanya agar angan tetap terjaga. Meski sebenarnya tiada juga.

Lelah itu mungkin seperti mengemas rintik hujan di pelupuk mata berkali-kali. Sementara ia tak pernah peduli.

Lelah itu mungkin seperti menaruh…

galihhidayatullah:

Jika derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya.
Maka mengapa pula mesti dijalani dengan sepedih rasa.
Sedangkan ketegaran adalah bukti kebesaran jiwa.

Jika kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya.
Maka mengapa pula tidak dinikmati saja.
Sedangkan derai tangis tak akan mengubah…

galihhidayatullah:

Kita pernah mencintai seseorang begitu dalam, meski tahu hanya berbalas pengabaian.

Kita pernah mengingat seseorang begitu kuat, meski sebenarnya tahu bahwa kita sudah lama dilupakan.

Kita pernah gigih bertahan agar ia tak melangkah pergi, meski ia begitu gagah ingin melepaskan.

Kita pernah…

"Ada memang seseorang yang ditakdirkan untuk tidak dilupakan; sesakit apapun dia memberi kenangan, selama apapun dia pergi meninggalkan."

— Tia Setiawati Pakualam (via karenapuisiituindah)

Hujan Terakhir.

kotahujan:


Setelah hujan ini
Aku ingin merapikan tempat tidurku
Dari mimpi buruk tentangmu
Dari segala sesal dan kisah-kisah usang
Kemudian basah ini
Akan mengenang rindu
Bahwa kita tak pernah setuju
Dilahirkan dan bertemu.

M. Noeris Anwar

ysgunawan:

Ukurlah usiamu bukan dengan waktu, tapi dengan karya dan pertemanan! #ntms | Selamat menakar usia :))

ysgunawan:

Ukurlah usiamu bukan dengan waktu, tapi dengan karya dan pertemanan! #ntms | Selamat menakar usia :))

(via jurnalcah)

Payung

Kala itu hujan turun begitu derasnya. Aku baru saja mendudukkan diri di selasar kampus tempat aku –kamu berada. Di saat yang lain membuka payung dan berlalu pergi,  aku terduduk sendiri, mendengar dentuman petir, dan derasnya hujan yang jatuh ke bumi. Bukan, bukan karena aku tak bawa payung –malah payungku tergenggam erat di tanganku. Aku disini, terduduk diam, menunggu kamu. Aku hanya khawatir kamu tak bawa payung dan terpaksa menunggu reda hujan sampai malam atau kamu menerobos hujan lalu kebasahan. Payungku boleh kamu pinjam, tak usah khawatirkan aku. Aku terbiasa berlari sambil hujan-hujanan. Aku hanya ingin memastikan, bahwa kamu pulang ke rumah dengan aman, tak sampai malam, tidak juga kebasahan. Jika nyatanya kamu membawa payungmu sendiri pun tak apa. Tak ada ruginya aku menunggumu, melihatmu membuka payung dan berlalu pulang. Karena disaat itu pula aku berdoa, suatu hari akan ada saatnya aku dan kamu berbagi payung bersama. Menikmati hujan, dan berdoa untuk aku dan kamu nantinya.

Bukankah saat yang tepat untuk berdoa itu memang di saat seperti ini, kan?! Di saat hujan turun, dan harapan-harapan di masa depan terbayang. Semoga hujan mengantarkanmu pulang dengan aman. Selamat malam.

6 Maret 2014 | 19:21

"Perempuan; hampir tidak mampu berhenti bicara saat sedang bahagia, dan memutuskan untuk diam seribu bahasa saat sedang bersedih."

— Tia Setiawati Pakualam (via karenapuisiituindah)

(via rachmadeniashafira)

My Beautiful Woman based on a true story. 

Think twice before you judge a parent. 

(Source: youtube.com, via kurniawangunadi)

"Memang menyakitkan, segimana besarnya masalah kita, orang-orang lain akan tetap berjalan maju. Tidak ada yg memahami. Walau pun kita cerita, mereka pasti akan bilang “aku tau apa rasanya.” Tapi mereka tidak benar-benar tau. Karena mereka tidak di dalam posisi kita. Tidak. Orang-orang lain akan tetap memperlakukan kita seperti orang biasa. Tanpa tau apa yg kita jalani. Tanpa tau apa yg sedang kita alami. Sebesar apapun badai yg ada di hati kita saat ini. The world keep on moving, and I’ll keep on standing. Satu-satunya cara adalah terus berjalan maju."

— Di Balik Jendela, Cinta Brontosaurus, hal. 41-55, Raditya Dika. (via kunamaibintangitunamamu)

(via rachmadeniashafira)